Rabu, 16 Maret 2011

Cerita Rakyat Siak Sri Indrapura

 LEGENDA IKAN PATIN



Pada zaman dahulu kala, di Tanah melayu tersebutlah seorang nelayan tua bernama Awang Gading.Dia tinggal seorang diri ditepi sebuah sungai yang luas dan jernih walaupun hidup seorang diri, Awang Gading selalu bahagia. Dia mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Tuhan. Hari – harinya dihabiskan untuk mencari ikan dan mencari kayu dihutan.

Suatu hari, Awang Gading terlihat mengail disungai. Sambil berdendang riang, dia menunggui kailnya. Burung–burung turut berkicau menambah kegembiraan Awang Gading. Sudah berkali–kali umpannya dimakan ikan namun saat kailnya ditarik, ikannya terlepas” Air pasang telan keinsang air surut telan keperut renggutlah ...............! biar putus jangan rabut,” terdengar dendang Awang Gading melempar Pancingnya kembali. Perlahan hari beranjak petang, namun tidak seekor ikan pun diperolehnya.

“ Alangkah tidak beruntungnya diriku hari ini, “keluh Awang Gading. Awang Gading bergegas membereskan peralatan Pancingnya dan berniat pulang . tiba-tiba terdengar tanggisan bayi. Dengan perasaan agak takut, Awang Gading mencari asal suara tersebut. Tak lama kemudian  Awang Gading melihat bayi perempuan yang mungil tergolek diatas batu. Rupanya dia baru saja dilahirkan oleh ibunya. ‘Anak siapa gerangan? Kasihan, ditinggal seorang diri ditepi sungai, ‘Awang Gading berucap dalam hati. Awang Gading kemudian membawa pulang bayi perempuan tersebut.
   
Malam itu juga Awang Gading menghadap ketua kampungnya untuk memperlihatkan bayi yang ditemukannya. “Awang, berbahagialah, karna kamu di percaya raja penghuni sungai untuk memlihara anaknya. Rawatlah dia dengan baik,” pesan Tetua Kampung.

Keesokan harinya, Awang Gading mengadakan tasyakuran atas hadirnya bayi ditengah kehidupannya. Awang mengundang seluruh tetangganya. Awang Gading memberi nama bayi tersebut Dayang Kumunah. “Dayang sayang, anakku seorang.........cepatlah besar menjadi gadis dambaan,”dendang Awang Gading saat menimang-nimang Dayang Kumunah.

  
Sejak kehadiran Dayang, Awang bertambah rajin bekerja. Awang memberikan Kasih sayang dan perhatian yang melimpah untuk Dayang. Berbagai pengetahuan yang dimiliki Awang ditularkannya kepada Dayang. Tak lupa pelajaran budi pekerti juga diberikan disela-sela kesibukan Awang bekerja. Setiap hari diajaknya Dayang mengail atau mencari kayu untuk mengenal keindahan alam secara lebih dekat.
 
Waktu terus berjalan. Dayang Kumunah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan berbudi. Dia juga rajin membantu bapaknya. Sayang, dayang kumunah tidak pernah tertawa. Suatu hari, seorang pemuda kaya bernama Awangku Usop singgah dirumah Awang Gading. Dia terpesona saat melihat kecantikan Dayang Kumunah. Tak lama kemudian Awangku Usop melamar Dayang kepada Awang Gading
Lamaran Awangku Usop diterima, tetapi Dayang Kumunah mengajukan Syarat.”Kanda Usop, sebenarnya kita berasal dari dua dunia yang berbeda. Saya berasal dari sungai dan mempunyai kebiasaan yang berlainan dengan manusia. Saya akan belajar menjadi seorang istri yag baik, tetapi jangan pernah minta saya untuk tertawa,” pinta Dayang Kumunah. Awangku Usop menyetujui syarat tersebut.

Pernikahan mereka diadakan dengan sebuah pesta yang sangat meriah. Semua tetangga dan kerabat kedua mempelai diundang. Aneka hidangan tersedia dengan melimpah. Seluruh kampung turut gembira menyaksikan pasangan pengantin itu. Dayang Kumunah gadis yang sangat cantik dan Awangku Usop seorang pemuda yang sangat tampan. Sungguh serasi dipandang mata.
Awangku Usop dan Dayang Kumunah hidup berbahagia. Namun kebahagiaan mereka tak berlangasung lama. Beberapa minggu setelah pernikahan, Awang Gading meninggal dunia. Hingga berbulan-bulan Dayang Kumunah terus Bersedih meskipun Awangku Usop selalu berusaha membahagiakan hati istrinya tersebut. Untunglah, kesediahan Dayang Kumunah segera terobati dengan kelahiran anak-anaknya yang berjumlah lima orang.
Meskipun kini telah memilki lima orang anak, Awangku Usop merasa kebahagiaan mereka belum lengkap sebelum melihat Dayang Kumunah tertawa. Memang, sejak pertama kali bertemu hingga kini Awangku Usop belum pernah melihat istrinya tertawa. Suatu hari, anak bungsu ,mereka mulai dapat berjalan tertatih-tatih. Semua anggota keluarga tertawa bahagia melihatnya, kecuali Dayang Kumunah. Awangku Usop meminta Dayang Kumunah ikut tertawa.

Dayang Kumunah menolaknya, namun suaminya terus mendesak. Akhirnya dituruti keinginan sang suami. Saat tertawa itu, tampaklah insan ikan dimulut Dayang Kumunah yang menandakan ia keturunan ikan. Setelah itu, Dayang segera berlari kearah sungai. Awangku Usop beserta anak-anaknya heran dan mengikutinya. Perlahan-lahan tubuh Dayang berubah menjadi ikan. Awangku Usop dan anak-anaknya ditinggalkannya. Awngku Usup telah mengingkari janjinya. Dia telah meminta Dayang Kumunah untuk tertawa, suatu hal yang terlarang baginya.
Awangku Usop segera menyadarinya kekhilafannya dan meminta maaf. Dia meminta Dayang Kumunah kembali kerumah mereka. Namun semua telah terlambat. Dayang telah terjun kesungai. Dia telah menjadi ikan dengan bentuk badan cantik dan kulit mengkilat tanpa sisik. Mukanya menyerupai raut manusia. Ekornya seolah-olah sepasang kaki yang bersilang. Orang-orang menyebutnya ikan patin
Sebelum menyelam kedalam air, Dayang berpesan, “ Kanda, peliharalah anak-anak kita dengan baik.” Awangku Usop dan anak-anaknya sangat bersedih. Mereka berjanji tidak akan makan ikan patin, karena dianggap sebagai keluarga mereka. Itulah sebabnya sebagian orang melayu tidak makan ikan patin.


Sumber Buku Cerita Rakyat Melayu
Penerbit Adicita Karya Nusa


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Facebook